APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Shenzhou 9 memantapkan program kapal luar angkasa berawak Cina

2012-07-12
Oleh Martin Sieff
Liu Yang, di tengah, taikonaut wanita Cina yang pertama, melambaikan tangannya di samping rekannya Jing Haipeng, kiri, saat dia keluar dari kapsul masuk-kembali dari kapal luar angkasa Shenzhou 9 milik Cina di Siziwang Banner, Wilayah Otonomi Mongolia Dalam pada hari Jumat, 29 Juni 2012. [Reuters]

Liu Yang, di tengah, taikonaut wanita Cina yang pertama, melambaikan tangannya di samping rekannya Jing Haipeng, kiri, saat dia keluar dari kapsul masuk-kembali dari kapal luar angkasa Shenzhou 9 milik Cina di Siziwang Banner, Wilayah Otonomi Mongolia Dalam pada hari Jumat, 29 Juni 2012. [Reuters]

Kesuksesan roket berawak Shenzhou 9 Cina terus menyegarkan program luar angkasa mereka, seiring dengan rencana Beijing untuk kembali melakukan peluncuran tahun depan.

Misi yang berakhir pada 29 Juni 2012 itu menunjukkan kemajuan program yang perlahan, berhati-hati, dan penuh kesabaran, yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kecepatan yang dramatis dan langkah-langkah raksasa yang dicapai program luar angkasa AS dan bekas Uni Soviet pada tahun 1960-an.

Misi luar angkasa berawak Cina keempat yang sukses sejak tahun 2003, Shenzhou 9 adalah kapsul berawak tiga orang kedua yang diluncurkan ke luar angkasa dan merupakan misi luar angkasa Cina yang terlama selama ini. Untuk pertama kalinya, seorang taikonaut [istilah bahasa Cina untuk astronaut] wanita Liu Yang, bertugas sebagai awak dan berkinerja dengan sempurna.

Para awak Shenzhou 9, yaitu Yang yang merupakan pilot Tentara Pembebasan Rakyat berusia 33 tahun, bersama dengan komandan misi Jing Haipeng dan Liu Wang telah berhasil mengirimkan landasan yang dikendalikan secara manual dan mengirim laboratorium Tiangong-1 seberat 8,5 metrik ton menuju jalur orbitnya pada September 2011. Ini merupakan langkah amat penting yang akan memberikan kemampuan bagi Cina untuk membangun dan mengembangkan stasiun luar angkasa pengorbit yang permanen milik mereka sendiri, seperti yang memang mereka rencanakan.

Pencapaian Cina bukanlah sesuatu yang baru

Meskipun pencapaian ini penting artinya bagi Cina, tapi hal itu bukanlah sesuatu yang baru. Astronot AS dan Soviet telah berhasil mengembangkan prosedur pendaratan dan pertemuan dengan kapsul dan roket yang mengorbit serta kemudian dengan stasiun luar angkasa mereka masing-masing yang mengorbit sejak tahun 1960-an.

Bahkan saat telah dirampungkan, stasiun luar angkasa Cina diperkirakan akan memiliki ukuran seberat 60 ton, jauh lebih kecil dari Stasiun Luar Angkasa Internasional seberat 200 ton yang dioperasikan oleh Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa, dan Jepang.

Namun, Cina kini menempati peringkat kedua di bawah Rusia dalam kemampuannya untuk secara independen mengirimkan awak manusia mereka sendiri ke Orbit Rendah Bumi [LEO] untuk misi-misi yang sangat beragam. Lalu, dalam 40 tahun sejak misi Apollo berawak milik AS ke bulan telah berakhir, Amerika Serikat dan Rusia [dahulu bernama Uni Soviet] telah merasa cukup hanya dengan membatasi program luar angkasa berawak mereka untuk misi-misi LEO dan penelitian ilmiah.

Empat misi berawak Cina sejak tahun 2003 telah menjadi bagian dari program jangka panjang yang ambisius untuk membangun stasiun luar angkasa milik Beijing dan menggunakannya sebagai batu loncatan untuk memperbarui misi kapal berawak ke Bulan. Pada akhirnya, program Cina akan mampu melangkah maju dengan misi ke Mars.

Cina tetap menggunakan teknologi yang andal, matang, serta tidak mahal untuk meluncurkan program luar angkasa mereka.

Kapsul kelas Shenzhou milik Cina telah dikembangkan secara perlahan, mendalam, dan konservatif. Shenzhou telah berhasil diluncurkan sebanyak empat kali, yang pertama pada November 1999.

Program luar angkasa menunjukkan evolusi organik

Pesawat luar angkasa Shenzhou, seperti halnya evolusi pesawat luar angkasa Apollo milik AS, yang lahir dari percobaan dan pengujian sebelumnya atas kapsul Mercury dan Gemini, menggambarkan evolusi organik dan berurut dari rancangan sebelumnya, yang lebih primitif yang mendasarinya.

Shenzhou dirancang dengan komponen yang lebih canggih dan ringan dari Soyuz yang digunakan oleh Rusia.

Shenzhou juga lebih canggih dalam hal melindungi nyawa awak-awaknya. Roket peluncur Long March 2F milik Cina memiliki sistem pembatalan yang membebaskan kapsul dari peluncur jika terjadi bencana.

Para ilmuwan Cina juga belajar dari guru Rusia mereka dalam hal memprioritaskan pembuatan “peluncur besar yang bodoh” yang stabil, dapat diandalkan, dan rendah biaya. Peluncur kargo Long March 2E, yang telah diubah untuk membawa pesawat luar angkasa berawak Shenzhou pada kelas 2F-nya, secara konseptual mirip dengan peluncur Proton milik Soviet/Rusia. Itu bukanlah sebuah roket super yang menghabiskan muatan dalam perjalanannya ke Bulan seperti yang dilakukan Saturn dari tahun 1968 hingga 1972. Tapi memang hal itu tak perlu.

Yang disediakan oleh Long March 2F adalah sebuah kuda pengangkut mantap dan tidak spektakuler, yang dapat diproduksi dengan biaya rendah dalam jumlah yang mencukupi untuk membawa awak ke luar angkasa secara berkala untuk mendapatkan pengalaman dan kemampuan program yang amat penting.

Filosofi rancangan dan pengujian “kura-kura mengalahkan kelinci” yang berhati-hati tapi sangat kompeten dan selalu berkembang telah memandu program luar angkasa Cina selama dua dasawarsa terakhir.

Cina tetap berada dalam perlombaan luar angkasa dengan dana yang rendah.

“Sejak awal, dan selama berlangsungnya pengembangan program penerbangan luar angkasa berawak Cina, tujuannya bukan untuk mengejar ketinggalan atau melampaui negara lain, tapi untuk tidak terlalu tertinggal di belakang,” Gregory Kulacki, seorang analis program ilmu pengetahuan Cina dari Persatuan Ilmuwan Peduli yang berbasis di AS, mengatakan pada koran The Hindu.

Pemerintah AS membiayai kegiatan luar angkasa sipil dari Administrasi Aeronautika dan Luar Angkasa Nasional [NASA] sebesar 17,7 milyar dolar per tahun. John Pike, direktur eksekutif GlobalSecurity.org, sebuah organisasi penilaian intelijen yang berbasis di Washington, memperkirakan dana tahunan program luar angkasa Cina melebihi 5 milyar dolar untuk tahun 2012.

Cina juga berhasil menerapkan standar keamanan yang tinggi dan dapat diandalkan untuk peluncuran berawak meskipun Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan milik mereka berada di salah satu wilayah yang paling terpencil dan tidak nyaman di dunia, yaitu di barat laut Gurun Gobi. Keempat misi berawak semuanya diluncurkan di musim yang berbeda, membuktikan kemampuan program luar angkasa berawak Cina yang mampu tetap beroperasi dalam cuaca panas menyengat di musim panas maupun cuaca dingin yang ekstrim di musim dingin.

Masih panjang jalan yang harus ditempuh dari meluncurkan satu taikonaut ke orbit hingga mewujudkan impian untuk akhirnya membangun dan mengoperasikan stasiun luar angkasa yang mengorbit dan bahkan sebuah pangkalan di bulan. Tapi Cina telah merencanakan program luar angkasa mereka untuk jangka panjang. Misi berawak selanjutnya, Shenzhou 10, telah dijadwalkan untuk tahun depan.

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.1 / 5 (84 suara)
 
 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button

Komentar Pembaca

 

อารยา tentang 17/08/2012 di 03:08AM

Bangsa Cina amat cerdas.