APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Yang Be sar Selanjutnya

2012-04-01
[Gambar dengan Istock]

[Gambar dengan Istock]

Staf FORUM Bijay Upadhyay berjalan keluar masuk halaman di ibukota Nepal seperti layaknya seorang pemandu wisata mencari jalan menyelusuri ruang-ruang museum. Barang-barang peninggalan bersejarah yang dijelaskannya pada pagi yang nyaman di bulan Agustus 2011 ini, sayangnya, bukan hal yang terbaik yang Lembah Kathmandu tawarkan. Mereka yang paling rentan.

Gedung-gedung yang mulai rusak berbaris di jalanan, mendampingi pembangunan gedung baru yang tingginya dua sampai tiga lantai. Perumahan dibangun begitu dekatnya satu sama lain sampai para penghuninya menyebut rumah-rumah ini sebagai rumah yang “berjabat tangan” atau “berciuman.” Puluhan bangunan yang saling bersandar ini hanya ditopang oleh papan kayu yang terlihat suatu saat seperti akan patah.

Banyak penghuni percaya, kata Upadhyay kepada FORUM, bahwa karena beberapa gedung ini selamat dari gempa dahsyat terakhir yang terjadi di Nepal tahun 1934 — berkekuatan 8,1 yang menewaskan lebih dari 8.500 orang — mereka dapat bertahan hidup dengan apapun.

Papan-papan kayu rapuh menopang bangunan yang miring di Kathmandu, Nepal.
                     Rumah-rumah seperti ini menghias pemandangan ibukota dan masih dihuni oleh para
                     keluarga. [STAF FORUM]

Papan-papan kayu rapuh menopang bangunan yang miring di Kathmandu, Nepal. Rumah-rumah seperti ini menghias pemandangan ibukota dan masih dihuni oleh para keluarga. [STAF FORUM]

“Hanya ada beberapa orang yang ingat atau berada di sini selama gempa 1934 tersebut,” kata Upadhyay, seorang manager program Manajemen Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat untuk Perkumpulan Nasional Teknologi Gempa Bumi-Nepal (NSET). “Dan untuk yang lainnya, itu hanya sebuah dongeng.”

Cerita ini hampir menjadi kenyataan untuk banyak orang Nepal pada tanggal 18 September 2011. Sebuah gempa berkekuatan 6,9 melanda perbatasan timur laut India-Nepal di pegunungan Sikkim di India, sekitar 270 kilometer timur Kathmandu. Pihak berwenang menghitung korban tewas mencapai 112 pada akhir bulan September, menurut surat kabar The Times of India.

Gempa bumi terjadi di sepanjang lempengan tektonik yang sama di mana, jutaan tahun yang lalu, pergeresan tersebut menciptakan pegunungan tertinggi di dunia, pegunungan Himalaya, demikian ahli geologi menjelaskan. Nepal sendiri terletak di sepanjang daerah Alpine-Himalayan, dimana 17 persen dari gempa bumi besar di dunia terjadi, menurut blog India Real Time The Wall Street Journal.

Para tentara Nepal memberikan bantuan kemanusiaan dan penanggulangan
                     bencana selama banjir Kosi di tahun 2008. [ANGKATAN DARAT NEPAL]

Para tentara Nepal memberikan bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana selama banjir Kosi di tahun 2008. [ANGKATAN DARAT NEPAL]

Statistik semacam ini, digabungkan dengan pernyataan dari beberapa ahli gempa bahwa Nepal akan mendapatkan gempa besar, yang mungkin berkekuatan 8,0 atau lebih pada skala Richter, kira-kira setiap 75 tahun, membuat para pejabat di negara yang terkurung daratan ini ada dalam tingkat kewaspadaan tinggi. Kementrian Dalam Negeri Nepal telah bekerja selama hampir dua tahun dengan pejabat daerah dan militer A.S., juga dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat setempat dan internasional, untuk membentuk sebuah pusat operasi darurat dan rencana penanggulangan bencana. Kelompok-kelompok kerja telah bertemu untuk merencanakan bagaimana menangani para pengungsi, kamp-kamp sipil, kekurangan pangan dan air bersih, komunikasi, akses ke jalan raya dan keamanan, selain banyak lagi hal-hal penting lainnya yang akan timbul ketika bencana terjadi.

“Kami masih dalam tahap perencanaan, namun proses ini tidak akan pernah berakhir,” Brigjen. Ramindra Chhetri, direktur humas Angkatan Darat Nepal mengatakan kepada FORUM.

Warga Nepal mencoba memindahkan sebuah kendaraan yang rusak setelah dinding
                     suatu rumah runtuh di Kathmandu selama gempa tanggal 18 September 2011.[AGENCE
                     FRANCE-PRESSE]

Warga Nepal mencoba memindahkan sebuah kendaraan yang rusak setelah dinding suatu rumah runtuh di Kathmandu selama gempa tanggal 18 September 2011.[AGENCE FRANCE-PRESSE]

Meskipun gempa September terjadi, para ahli mengakui bahwa lokasi geografis Nepal menentukan kebutuhan untuk terus merencanakan tentang sebuah gempa besar yang tidak akan bisa dihindari.“Terjadinya gempa ini tidak menurunkan ancaman dari gempa besar yang kami harapkan terjadi di Himalaya,” kata C.P. Rajendran, seorang ahli geologi di Institut Sains India di Bangalore, India, kepada surat kabar The Himalayan Times hanya beberapa hari setelah gempa September 2011. “Kami perlu menangani setiap gempa di sini dengan cara yang khusus. ... Kenyataannya bahwa beberapa bagian dari Himalaya yang berdasarkan sejarah tidak terkena gempa, mempunyai potensi untuk menghasilkan gempa bumi kapan saja, terlepas dari gempa yang terjadi sekarang ini.”

Dalam dasawarsa terakhir, populasi di Lembah Kathmandu membengkak dari sekitar 1 juta menjadi sekitar 4,5 juta orang. Jika sebuah gempa menyerang Kathmandu dengan kekuatan yang sama seperti di Haiti bulan Januari 2010 lalu, Nepal akan mengalami kehilangan 200.000 jiwa, dan 200.000 lainnya akan terluka parah, demikian diramalkan oleh pejabat dari NSET. Selain itu, 1,5 juta orang akan menjadi tunawisma, dan 60 persen perumahan akan hancur, demikian dilaporkan kantor berita IRIN dari P.B.B.

“Pada saat ini, kami tidak begitu yakin apakah ini akan terulang,” kata Rita Dhakal, ahli urusan kemanusiaan dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan P.B.B., kepada IRIN setelah gempa September. “Apapun halnya, ini adalah isyarat untuk Nepal supaya bersiap-siap.”

PELAJARAN DARI HAITI

Duta Besar A.S. untuk Nepal Scott DeLisi menggambarkan Nepal sebagai “Haiti yang duduk di atas gempa seukuran Jepang” di sebuah latihan penanggulangan bencana bulan Agustus 2011 yang diselenggarakan oleh Pusat Keunggulan untuk Penanggulangan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan dari Komando Pasukan A.S. di Pasifik yang terletak di Hawaii.

“Ini artinya harus jelas jika Anda melihat rekaman-rekaman video dari bencana-bencana lainnya,” kata DeLisi. “Apakah pemikiran bahwa kota ini akan runtuh menjadi debu dalam sekejap menakutkan Anda seperti halnya saya? Seharusnya begitu, karena itulah apa yang dapat terjadi.”

Banyak pejabat Nepal terlibat dalam perencanaan penanggulangan bencana ini memuji kedatangan DeLisi di tahun 2010 dan semangatnya untuk menyiapkan rakyat Nepal untuk bertahan hidup bagi momentum tersebut yang negara ini telah dapatkan dari penyusunan sebuah rencana penanggulangan bencana.

“Para ahli mengatakan bahwa setiap dolar yang kita belanjakan untuk kesiapan yang efektif akan menghemat kira-kira dari $10 A.S. sampai $15 dalam biaya penanggulangan nanti,” kata DeLisi. “Kesiapsiagaan dan pengurangan resiko masuk akal jika kita ingin menyelamatkan nyawa, jika kita ingin melestarikan masyarakat, dan jika kita ingin melindungi anggaran kita.”

Di Nepal, lebih dari 16 gempa besar telah tercatat sejak 1223, menurut laporan bencana tahun 2009 oleh Kementrian Dalam Negeri Nepal. Namun masih banyak warga yang masih belum pernah mengalami gempa.

“Masyarakat tidak yakin apakah ini akan terjadi atau tidak,” kata Upadhyay kepada FORUM. “Kami telah dapat memberi mereka informasi. Sekarang, kami harus memotivasi mereka ke arah yang lebih aman.”

“Masyarakat tidak yakin apakah ini akan terjadi atau tidak,” kata Upadhyay kepada FORUM. “Kami telah dapat memberi mereka informasi. Sekarang, kami harus memotivasi mereka ke arah yang lebih aman.”

Motivasi itu diteruskan kepada pihak berwenang yang juga bertanggung jawab untuk menciptakan dan menerapkan rencana penanggulangan bencana.

Chhetri, misalnya, mendukung penempatan awal untuk alat-alat, seperti helikopter, di luar Lembah Kathmandu untuk meningkatkan upaya-upaya penyelamatan dan pemulihan. Armada helikopter Angkatan Darat Nepal telah memburuk selama bertahun-tahun, dan hampir semua pesawat ini tidak dapat dijalankan lagi karena kurangnya anggaran pemeliharaan yang telah dipotong oleh militer, tambah Chhetri. Helikopter Mi-17 adalah yang paling berguna di Nepal, mengingat medan negara dan fleksibilitas pesawat, kata Chhetri. Ia ingin melihat Mi-17 dibawa sebanyak mungkin ke Nepal. Jika itu terjadi, “kami akan siap untuk tingkat tertentu” untuk menanggulangi lebih baik di daerah-daerah yang lebih luas di negara ini selama bencana terjadi, kata Chhetri.

“Meskipun kurangnya peralatan yang memadai, kami telah dapat menggerakkan pasukan-pasukan kami dengan cepat ke daerah bencana,” kata Chhetri. “Ada banyak lembaga yang juga cukup siap untuk memberikan bantuan.”

Federasi Internasional Perkumpulan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) mengaku sebagai lembaga kemanusiaan terbesar dengan kantor lokalnya di Nepal. Lembaga ini hadir di setiap 75 distrik di negara itu dan mempunyai 90.000 relawan, demikian menurut Victoria Bannon, perwakilan IFRC di negara Nepal.

“Ada cukup banyak kemajuan dalam membawa perhatian ini kepada kebutuhan untuk kesiapsiagaan yang lebih baik untuk setiap bencana,” kata Bannon kepada FORUM.

Membuat lembaga-lembaga kemanusiaan internasional ini terlibat dalam tahap perencanaan adalah salah satu tantangan yang terus ada, namun, sampai bencana benar-benar menyerang, katanya. “Salah satu tantangannya terkait dengan sumber daya.”

BANTUAN DARI DALAM

Untuk mengimbangi tantangan mengamankan bantuan dari luar sebelum bencana terjadi, para pejabat telah secara aktif menyebarkan pesan-pesan kepada warga Nepal untuk mendapatkan ketrampilan yang bisa menyelamatkan jiwa, seperti CPR, untuk meningkatkan ketahanan hidup mereka sendiri dan juga tetangga-tetangga mereka. Untuk itu, purnawirawan Letjen. John Goodman, mantan direktur Pusat Keunggulan Penanggulangan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan, menekankan perlunya setiap orang di Nepal untuk terlibat dalam proses perencanaan untuk bencana besar.

“Selama 24 sampai 48 jam pertama, lingkungan Anda adalah lingkungan Anda,” kata Goodman dalam pidato pembukaan latihan penanggulangan bencana yang diselenggarakan oleh kelompoknya bulan Agustus 2011 lalu. “Pemerintah belum ada di sana [pada 48 jam pertama] ketika masyarakat sangat membutuhkannya. Setiap orang yang ada di masyarakat kita harus tahu peran mereka dan tanggung jawab mereka [karena] sebagian besar orang yang akan bertahan hidup akan diselamatkan oleh tetangga mereka selama 48 jam pertama setelah gempa terjadi.”

Angkatan Darat Nepal juga telah menghasilkan program televisi yang dirancang untuk mengajarkan ketrampilan penyelamatan jiwa untuk masyarakat umum, Letkol. Madhukar Singh Karky, yang memimpin program bancana Angkatan Darat Nepal katakan kepada FORUM. Program ini akan mengajarkan penduduk bagaimana menyiapkan peralatan keselamatan dan menciptakan rencana penanggulangan bencana untuk keluarga mereka.

“Kami sadar kami memiliki kesenjangan dan menjangkau masyarakat untuk mengisi kesenjangan tersebut,” kata Karky.

MEMUNGKINKAN BANTUAN LUAR

Gempa bumi sebelumnya telah membuktikan bahwa ketika bencana terjadi, bantuan luar akan datang, kata Letkol. Anup Jung Thapa, yang memimpin sebuah kelompok responder pertama untuk Angkatan Darat Nepal. “Yang harus didahulukan adalah untuk niat baik itu supaya terus ada,” katanya. Namun, tantangan untuk masuk ke Nepal karena lokasi geografisnya, dan kenyataan bahwa negara tersebut hanya mempunyai satu bandara internasional yang mungkin tidak akan bisa berfungsi, berarti bahwa bantuan luar akan tertunda, kata Thapa.

“Tujuh hari pertama adalah ketika Anda akan menyelamatkan nyawa,” kata Thapa kepada FORUM. “Dalam bagian awal ini, kami akan sendiri, meskipun didoakan oleh semua orang supaya selamat. ... Jarak dan keterpencilan telah membuatnya sulit bagi pasukan asing untuk menjadi responder pertama.”

Sabin Pradhan, wakil pengawas Polisi Nepal, berkata bahwa para petugas telah bekerja dengan masyarakat dan menyebarkan pesan-pesan tentang peran penting mereka selama bencana terjadi.

“Tak ada keraguan bahwa tanggapan masyarakat adalah yang tercepat,” kata Pradhan selama presentasi dalam latihan penanggulangan bencana.

Pradhan mengatakan polisi akan berada di antara para responder pertama dan akan menjaga keamanan dengan lembaga-lembaga nasional dan internasional lainnya. Setiap saat, akan ada lebih dari 3.200 anggota polisi yang siap untuk ditugaskan langsung, katanya.

“Satu panggilan telepon ke kantor kami akan mengaktifkan kami dan kami bergerak,” kata Pradhan.

MENJADI TAHAN GEMPA

Kathmandu lolos dari kerusakan besar akibat gempa September 2011 karena jaraknya dari pusat gempa, demikian menurut surat kabar The Kathmandu Post newspaper. Kalau saja gempa terjadi lebih dekat dengan ibukota, maka akibatnyapun akan sangat berbeda, dengan kerusakan bangunan yang menyebabkan banyaknya korban jiwa, demikian dilaporkan surat kabar itu.

“Adalah sangat penting untuk mengenali gedung-gedung yang beresiko tinggi dan melaksanakan penyesuaian pembangunan kembali atau seismik,” kata Sagar Krishna Joshi, manager program nasional untuk Program Pengurangan Resiko Gempa dan Kesiapan Pemulihan kepada The Kathmandu Post bulan September 2011.

Lainnya juga berbagi prioritas yang dijelaskan Joshi untuk membuat gedung-gedung di kota ini menjadi lebih tahan gempa.

“Kesibukan saya adalah bagaimana mengurangi jumlah orang yang kita selamatkan dari reruntuhan,” kata Robert Piper, kepala upaya kemanusiaan P.B.B. di Nepal, kepada surat kabar The Times of India dalam sebuah tulisan di bulan Maret 2010. Fokus Piper ini telah berjalan dengan sebuah konsorsium yang meliputi P.B.B., Palang Merah, Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia untuk melaksanakan sebuah proyek seharga 130 juta dolar A.S. yang bertujuan untuk memperbaiki bangunan-bangunan penting seperti sekolah-sekolah dan rumah sakit di Nepal untuk menyelamatkan jiwa, menurut The Times of India.

“Ini tidak akan menyelamatkan setiap nyawa,” kata Piper kepada surat kabar itu. “Kami tidak bisa menyesuaikan setiap bangunan di Lembah Kathmandu. Namun jika kami menyesuaikan seluruh sekolah, jika kami memperbaiki rumah-rumah sakit, jika kami menggeser jembatan-jembatan, jika kami menempatkan sumber air di tempat-tempat pengungsian ... kami akan mempunyai dampak baik.”

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.1 / 5 (127 suara)
 
 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button

Komentar Pembaca

 

章经权 tentang 03/09/2012 di 02:53AM

Senjata berupa gempa bumi dan cinta di dunia.

Huang Qiuyan tentang 15/08/2012 di 01:23AM

Semoga hal-hal lainnya berjalan lancar!

王玉贤 tentang 12/08/2012 di 02:05PM

Hebat.

黄桥林 tentang 20/07/2012 di 10:15PM

Sangat menyedihkan.

邓力源 tentang 16/06/2012 di 04:33AM

Ini cukup baik.